Layak Makan Judu Alu Makan Patut Febra Myu

Merangin25 Dilihat

Merangin – Persoalan lingkungan masih menjadi masalah utama di dunia sampai saat ini. Apalagi hampir setiap daerah di Indonesia.

 

 

Febra muyu pendiri Sanggar Seni Budaya Batin Penghulu ini menyelesiakan tugas akhir dengan mengambil tema dalam pementasan teater bagaimana persoalan lingkungan “disuarakan” melalui karya teater.

 

Karya pertunjukan teater ini terinspirasi dari tradisi lisan OMPEK GANJI LIMO GONOK.

Segala kelayakan dan kepatutan nilai – nilai moral, nilai – nilai kehidupan yang ada pada masyarakat umumnya dan khususnya masyarakat di Desa Kibul.

 

Melalui tugas akhir Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni dengan judul “Layak Makan Judu Alu Makan Patut” Febra Muyu menyuarakan pentingnya kesadaran masyarakat bahwa bumi punya batasan,” tambahnya.

 

Efek deforestasi yang tidak dapat diubah akan mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan seperti kenaikan suhu permukaan bumi secara permanen, efek rumah kaca, biodiversitas menurun, erosi, polusi, penggundulan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati karna tidak lagi memiliki habitatnya dan lain-lain. Bumi yang rusak tidak akan mampu mensejahterakan semua manusia yang hidup di dalamnya.

 

Berangkat dari hal inilah Febra Muyu yang ingin ditawarkan. Ketika aspek-aspek di atas tidak diselaraskan dengan sesuatu yang nyata maka akan terjadi gangguan terhadap kearifan dasar dari kehidupan. Ketika kita tidak arif melihat tanda-tanda alam juga akan menjadi gangguan terhadap nilai-nilai dasar kehidupan.

 

Konklusi yang ditawarkan pengkarya adalah memberikan pandangan terhadap pentingnya Ibu dalam tatanan dasar yang tidak terbantahkan menjadi norma-norma bagi manusia sekaligus ibu adalah alam dan bumi namun pentingnya seorang ibu hari ini yang dihadirkan pengkarya tidak lagi hadir secara realistis. Ibu dihadirkan pengkarya ke dalam ranah kreatifiyas sebagai sesuatu hal yang dimiliki oleh pemangku kepentingan.

Baca Juga:  BPD HIPMI Merangin Harus Bisa Tarik Investor

 

Inilah yang menjadi sumber inspirasi oleh pengkarya yang diwujudkan didalam karya penciptaan teater yang diberi judul “Layak Makan Judu Alu Makan Patut” yang berarti kepantasan dan kepatutan pada kehidupan bermasyarakat dan alam.

 

Selama proses penciptaan karya banyak hal yang menjadi bahan eksperimen untuk dieksplor yang menarik sesuai dengan ide dan kebutuhan pertunjukan.

 

Sebagai judul karya penciptaan ini adalah bentuk harapan kepada Tradisi Lisan Ompek Ganji Limo Gonok agar tetap menjadi peristiwa budaya yang berkelanjutan, lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas, sehingganya akan

memberikan efek positif kepada perkembangan desa-desa yang ada di Kec.Tabir Barat.

 

Pengkarya menggunakan reinterpretasi sebagai konsep penciptaan teater yang mengangkat nilai-nilai Tradisi Lisan Ompek Ganji Limo Gonok sebagai sumber untuk memperkuat peristiwa pada karya “Layak Makan Judu Alu Makan Patut”.

Komentar